Langsung ke konten utama

Postingan

Nasi Pecel Lele Darimu

Sepiring nasi pecel lele itu tampak sederhana. Nasinya hangat, lelenya digoreng kering, sambalnya mantap, lalapannya segar. Tidak mahal. Tidak mewah. Disajikan di atas piring sebagaimana biasanya. Namun bagi sebagian orang, makanan sederhana seperti itu bisa menjadi kenangan yang tak terlupakan. Ada kalanya sebuah kebaikan kecil justru menetap paling lama dalam ingatan. Bukan karena kemewahannya, tetapi karena ketulusan di baliknya. Sering kali kita menilai sesuatu dari nominalnya. Kita mengira yang bernilai itu yang mahal dan mewah. Padahal dalam pandangan Allah, nilai tidak diukur dari harga, tetapi dari keihklasan hati. Islam mengajarkan bahwa kebaikan tertinggi adalah ketika seseorang mampu memberi dari apa yang ia cintai. Allah Ta’ala berfirman: وَلَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ Artinya: “ Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. ” (QS. Ali Imran: 92) Ayat ini pernah meng...

MENJADI HAMBA YANG BERHASIL DI BULAN RAMADHAN

الحمدُ للهِ وَحْدَهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَمَّا بَعْدُ Refleksi tentang Iman, Taubat, dan Konsistensi Amal Setiap tahun Ramadhan datang menyapa. Ia hadir seperti tamu istimewa yang membawa keberkahan, pengampunan, dan peluang perubahan. Namun ada satu kenyataan yang sering luput dari kesadaran kita, yakni tidak semua orang yang berpuasa benar-benar menikmati indahnya Ramadhan. Ada yang keluar dari bulan suci ini dengan hati yang bersih dan dosa yang diampuni. Ada pula yang keluar tanpa membawa apa-apa, selain hanya rasa lapar dan dahaga saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ Artinya: “ Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (HR. Bukhari dan Muslim) Namun beliau juga mengingatkan: رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ Artinya: “ Betapa bany...

Sabar dan Jangan Maksa

Sabar dalam bahasa yang sederhana berarti menahan diri, tidak tergesa-gesa, dan tetap teguh di jalan yang benar meskipun menghadapi ujian atau godaan. Sikap sabar bukan berarti kita berhenti berusaha, melainkan terus berikhtiar dengan cara yang benar, sambil meyakini bahwa Allah Ta'ala telah menetapkan waktu terbaik untuk setiap hal yang terjadi dalam hidup kita. Janganlah kita memaksakan sesuatu yang belum waktunya, karena hidup ini sudah diatur oleh Allah. Setiap hal di dunia ini memiliki takdir dan waktunya masing-masing. Memaksakan sesuatu sebelum waktunya sering kali justru berakhir dengan penyesalan. Sebab apa yang belum siap datang bisa jadi membawa lebih banyak mudharat daripada manfaat. Lebih baik kita bersabar dan yakin bahwa segala sesuatu akan datang pada saat yang paling tepat. Mari kita lihat contoh dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seseorang ingin membeli motor baru atau ponsel canggih. Jika uangnya memang sudah cukup, silahkan dibeli, itu bagian dari rezeki All...

Banyak Bersyukur dan Kurangi Mengeluh!

Mari kita renungkan sejenak. Berapa banyak nikmat yang sudah Allah berikan kepada kita?  Udara yang kita hirup gratis, jantung kita berdetak tanpa henti, mata kita bisa melihat, telinga bisa mendengar. Tapi apakah kita sudah benar-benar bersyukur? atau ternyata justru lebih seringnya mengeluh? Padahal Allah sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an surat Ibrahim Ayat 7, وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ Artinya: " Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih ". (QS. Ibrahim [14]: 7) Ayat ini jelas sekali, syukur bukan hanya membuat nikmat terasa cukup, tapi juga mendatangkan tambahan nikmat dari Allah Ta'ala. Sebaliknya, banyak mengeluh, kufur nikmat, justru akan mengundang murka Allah. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَس...

Kerja Cerdas vs Kerja Keras

Dalam bekerja, kita sering mendengar ungkapan, "Kerja cerdas lebih baik dari kerja keras." Namun, apa sebenarnya yang membedakan keduanya? Apakah orang yang bekerja keras selalu kalah dari mereka yang cerdas? Ataukah justru keduanya bisa saling melengkapi? Mari kita telusuri lebih dalam. Kerja Hanya Sekadar Bekerja Bayangkan bagaimana seseorang yang bekerja dalam bidangnya masing-masing setiap hari dari awal hingga selesai. Pekerjaannya dikerjakan sebagaimana biasanya, selalu dengan cara yang sama. Tidak pernah bertanya, “Apakah ini cara terbaik?” atau “Adakah cara yang lebih baik?” Ia seperti robot: diberi perintah, dijalankan. Tidak salah memang, tapi bakal tidak ada perkembangan. Termasuk tidak ada pembaruan cara. Tidak ada keinginan mencari jalan yang lebih baik. Hasil kerjanya ya begitu saja, tak mengalami peningkatan berarti dari waktu ke waktu. Inilah pola kerja yang sering disebut sebagai kerja hanya sekedar bekerja. Bekerja dengan tidak memanfaatkan kemampuan berpik...

Tua Itu Pasti, Dewasa Belum Tentu

Banyak orang mengira bahwa kedewasaan datang seiring bertambahnya usia. Ketika seseorang menginjak usia tertentu, ia otomatis menganggap sudah dewasa. Padahal dewasa itu mencerminkan kepribadian yang matang, bijaksana, dan bertanggung jawab. Namun pada dasarnya, ini bukan soal angka. Karena kenyataan tak sedikit yang secara usia telah dewasa, tetapi cara berpikir dan bertindaknya masih dipenuhi ego, impuls, dan ketidaksiapan emosional. Menjadi dewasa adalah sebuah perjalanan, bukan pencapaian. Perjalanan ini dibentuk oleh interaksi antara individu dan lingkungan sosial, dibumbui oleh pengalaman hidup, dan dipertajam oleh refleksi diri. Di titik tertentu, seseorang mungkin secara hukum sudah “dewasa” secara fase usia, namun secara emosional dan mental masih jauh dari itu.  Jadi, dewasa itu adalah  hasil dari bagaimana seseorang mengalami, memahami, dan merespons kehidupan yang dijalaninya. Dewasa itu tidak diukur dari umur, melainkan dua hal, cara berpikir dan cara bertind...

Jangan Lari dari Masalah!

Bayangkan anda sedang menikmati keindahan dengan sepeda motor di sebuah pulau yang indah. Langit cerah, udara segar, dan semuanya terasa baik-baik saja. Tapi tiba-tiba badai hujan dan angin datang sehingga mengacaukan perjalanan anda. Itulah yang disebut  masalah . Tidak ada satu pun dari kita yang bisa menghindarinya selamanya. Selama kita masih hidup, masalah adalah bagian dari perjalanan kehidupan. Masalah Itu Pasti Ada Banyak orang berharap hidup ini bisa berjalan mulus seperti dalam angan-angan yang selalu membayangkan kebahagiaan. Tapi kenyataannya, hidup itu tidak bisa di tebak. Kadang bahagia, kadang sedih, kadang bikin jantung deg-degan. Masalah muncul dalam berbagai macam bentuk, seperti konflik, tekanan pekerjaan, ketidakpastian masa depan, keuangan yang tak stabil, bahkan hal kecil seperti rasa cemas yang datang tanpa alasan. Tapi satu hal yang pasti adalah  masalah itu bagian dari setiap yang hidup. Maka dari itu, prinsip pertama yang harus kita tanamkan dala...