Sepiring nasi pecel lele itu tampak sederhana. Nasinya hangat, lelenya digoreng kering, sambalnya mantap, lalapannya segar. Tidak mahal. Tidak mewah. Disajikan di atas piring sebagaimana biasanya. Namun bagi sebagian orang, makanan sederhana seperti itu bisa menjadi kenangan yang tak terlupakan. Ada kalanya sebuah kebaikan kecil justru menetap paling lama dalam ingatan. Bukan karena kemewahannya, tetapi karena ketulusan di baliknya. Sering kali kita menilai sesuatu dari nominalnya. Kita mengira yang bernilai itu yang mahal dan mewah. Padahal dalam pandangan Allah, nilai tidak diukur dari harga, tetapi dari keihklasan hati. Islam mengajarkan bahwa kebaikan tertinggi adalah ketika seseorang mampu memberi dari apa yang ia cintai. Allah Ta’ala berfirman: وَلَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ Artinya: “ Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. ” (QS. Ali Imran: 92) Ayat ini pernah meng...