Langsung ke konten utama

Nasi Pecel Lele Darimu


Sepiring nasi pecel lele itu tampak sederhana.

Nasinya hangat, lelenya digoreng kering, sambalnya mantap, lalapannya segar. Tidak mahal. Tidak mewah. Disajikan di atas piring sebagaimana biasanya.

Namun bagi sebagian orang, makanan sederhana seperti itu bisa menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Ada kalanya sebuah kebaikan kecil justru menetap paling lama dalam ingatan. Bukan karena kemewahannya, tetapi karena ketulusan di baliknya.

Sering kali kita menilai sesuatu dari nominalnya. Kita mengira yang bernilai itu yang mahal dan mewah. Padahal dalam pandangan Allah, nilai tidak diukur dari harga, tetapi dari keihklasan hati.

Islam mengajarkan bahwa kebaikan tertinggi adalah ketika seseorang mampu memberi dari apa yang ia cintai.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

Artinya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)

Ayat ini pernah menggerakkan hati seorang sahabat mulia. Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu memiliki kebun kurma yang sangat ia cintai, bernama Bairuha’. Ketika ayat tersebut turun, ia tidak menunda. Ia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyerahkan kebun terbaiknya untuk dimanfaatkan sesuai arahan beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan agar kebun itu diberikan kepada kerabatnya. Maka ia pun membagikannya kepada keluarga dan keponakan-keponakannya.

Yang paling dekat dan membutuhkan, itulah yang patut diutamakan untuk diberikan.

Memberi bukan tentang balasan apa yang akan kembali, tetapi tentang apa yang tulus keluar dari dalam hati.

Sepiring nasi pecel lele mungkin bukan kebun kurma. Tetapi jika itu yang dimiliki dan diberikan dengan cinta, ia termasuk bagian dari ayat ini. Ia bagian dari usaha menuju kebaikan yang sempurna.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَهِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ: صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

Artinya: “Bersedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah, dan kepada kerabat ada dua (kebaikan); sedekah dan silaturrahim.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim)

Kadang kebaikan terbesar justru mesti didahulukan dalam lingkungan keluarga. Di antara orang-orang terdekat. Dengan apa yang bisa diberikan sesuai dengan kemampuan.

Seperti halnya nasi pecel lele yang bukan hanya mengenyangkan perut. Ia menguatkan hubungan. Ia menyampaikan kasih sayang tanpa perlu pidato panjang. terlebih dalam lingkaran keluarga itu merupakan bentuk kepedulian dan rasa cinta.

Ada orang-orang yang mungkin tidak dikenal luas. Tidak tercatat namanya dalam sejarah besar. Tetapi Allah mencatat setiap kebaikan kecilnya. Pasti Allah akan memberi ganjaran dan balasan kepada setiap kebaikan yang diberikan dengan penuh keikhlasan dan tanpa rasa pamrih.

Secara hitungan manusia, mungkin harta akan berkurang jika dibagi-bagikan. Tetapi nyatanya tidak pernah ada dalam sejarah orang menjadi miskin karena infaq dan sedekah. Secara keberkahan hartanya justru akan bertambah. Para ulama menjelaskan bahwa sedekah bisa menjadi sebab datangnya keberkahan dan terhindarnya harta dari keburukan .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ

Artinya: “Harta seorang hamba tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim)

Bahkan bisa jadi Allah Ta'ala mengganti dengan kebaikan yang lebih besar, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Artinya: “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Sebagian orang takut memberi karena khawatir miskin. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan agar tidak menahan harta dan menghitung-hitungnya karena khawatir berkurang. Sikap seperti itu justru bisa menghilangkan keberkahan .

Sebaliknya, orang yang lapang dalam berbagi akan merasakan keluasan dalam hidupnya. Mungkin bukan selalu dalam angka yang besar, tetapi dalam ketentraman hati.

Dan kekayaan yang sesungguhnya adalah sedekah yang telah diberikan pahalanya terus berjalan meski kita telah meninggal dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Apabila cucu Adam meninggal, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga; sedekah jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan atau anak shalih yang mendo’akan (orang tua)nya.” (HR. Muslim)

Betapa mungkin, dari sepiring nasi pecel lele darimu, lahirlah doa, ingatan baik, dan semoga menjadi amal yang terus mengalir untukmu. 

Ada wajah yang teringat.
Ada doa yang terasa.
Ada harapan yang dulu pernah diucapkan dengan lembut bahwa "suatu hari nanti, akan selalu ingat akan kebaikan kecil ini".

Kini setelah waktu berjalan, barulah terasa bahwa sepiring nasi itu bukan sekadar makanan. Ia adalah perhatian. Ia adalah dukungan dalam diam. Ia adalah doa yang dibungkus kesederhanaan.

Dan sungguh, kebaikan itu tidak pernah hilang.

Sejatinya waktu terus berjalan, yang tersisa dari hidup ini bukanlah apa yang kita kumpulkan, tetapi apa yang pernah kita berikan. Bukan harta yang kita simpan, tetapi manfaat yang kita tebarkan.

Semoga Allah menerima setiap kebaikan yang pernah dilakukan dan ditebarkan, sekecil apa pun itu.
Semoga setiap keihklasan yang pernah diberikan menjadi cahaya yang menerangi dalam kegelapan.
Dan semoga kita semua dimudahkan untuk meneladani kebaikan-kebaikan sederhana yang sering tidak terlihat, tetapi sangat berarti.

Karena pada akhirnya, yang menguatkan hidup bukanlah kemewahan pada harta.

Tetapi cinta yang diberikan meski dengan sederhana.

اللَّهُمَّ لكَ أسْلَمْتُ، وبِكَ آمَنْتُ، وعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وإلَيْكَ أنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وإلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ المقَدِّمُ وَأَنْتَ المؤَخِّرُ لاَإِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tim Hebat itu Dibangun, Bukan Dilahirkan

Banyak Bersyukur dan Kurangi Mengeluh!

Mengapa Mayoritas Masyarakat Indonesia Masih Berpikir di Level 1 Taksonomi Bloom?